AsalUsul dan Sejarah Tari Adat Loliyana - Tari Adat Loliyana merupakan tarian adat hasil kreasi atau pengembangan yang berasal dari masyarakat Kepulauan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.. Tarian Adat Loliyana yang hanya menggunakan sapu tangan berwarna putih sebagai propertinya ini menceritakan tentang Upacara Panen Lola—salah satu upacara adat panen hasil laut
Fofid Rudi (2017) Atuf, sang penakluk matahari : cerita rakyat dari Maluku. Kantor Bahasa Maluku, Maluku. ISBN 978-602-50294-- G. G., Hadi Le (2017) Pakuela sang penguasa S. Amran (2009) Cahaya dari tenggara : cerita rakyat Sulawesi Tenggara. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. ISBN 9789796857999
Salahsatu tarian tradisional yang dapat kita kenal adalah sebuah tarian yang bernama tari Bulu Gila atau Bambu Gila, suatu tarian yang berasal dari permainan rakyat Maluku Tengah. Tarian ini adalah permainan tradisional yang biasanya dipertunjukkan para pemuda desa pada acara-acara tertentu. Dahulu para penari akan bergerak dengan lincah
THEKEI ISLANDS. Kepulauan Kei terletak di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku. Secara geografis terletak di sebelah timur Laut Banda, diantara kepala burung Pulau Papua dan Benua Australia. Kepulauan Kei terdiri dari 119 pulau yang membentuk dua gugus pulau, yaitu Pulau Kei Kecil dan Pulau Kei Besar. Pusat Kabupaten terletak di Kei Kecil dengan
Digitalisasicerita rakyat juga dilakukan oleh Kantor Bahasa Provinsi Maluku terhadap cerita rakyat yang berasal dari berbagai daerah di Maluku sejak tahun 2016. Di tahun 2021, Kantor Bahasa Provinsi Maluku telah menerbitkan 22 cerita rakyat yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa daerah yang ada di Maluku dan bahasa asing (baca: Inggris
Dankami senang ketika mendengar ada yang memujinya," kata Kim dikutip dari VOI, Rabu, 3 Agustus. "Seperti judulnya 'Yumi's Cells', saya ingin pesan yang tersampaikan bahwa hidup Yumi adalah miliknya. Meski dia melewati banyak hal, saya ingin membesarkan hatinya bahwa 'kau mungkin membuat kesalahan dan punya penyesalan tapi kamu
.
- Danau Tolire Merupakan salah satu objek wisata di Ternate, Maluku Utara. Danau Tolire berada di kaki Gunung Gamalama berjarak sekitar 10 km dari pusat keramaian di Ternate. Danau Tolire terbagi menjadi dua jenis, yaitu Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Tolire Kecil berjarak sekitar 200 m dari Tolire Besar. Selain ramai dikunjungi oleh wisatawan, danau ini menyimpan kisah menarik mengenai asal usulnya dalam budaya tradisi lisan masyarakat Maluku. Baca juga Carita Rakyat Batu BaliangAsal Usul Danau Tolire Menurut cerita rakyat Maluku, dulunya danau ini adalah sebuah perkampungan. Perkampungan ini bernama Tolire. Masyarakatnya hidup dengan sejahtera dan berpegang teguh dengan adat istiadat kampung. Ritual-ritual keadatan dijalankan dengan khidmat dan seksama oleh masyarakat Tolire setiap harinya hingga sampai pada suatu perhelatan. Suatu ketika, kampung Tolire mengadakan pesta besar bersama seluruh masyarakatnya, tanpa terkecuali para tokoh-tokoh adat setempat. Hidangan makanan beserta alunan musik biola mengiringi jalanannya pesta besar di kampung Tolire.
Pulau Asutubun, Saumlaki Foto Fanny Kusumawardhani/kumparanKamu semua pasti pernah mendengar kisah soal legenda Ratu Pantai Selatan yang ada di Yogyakarta. Nyi Roro Kidul dikenal sebagai dewi atau ratu yang termahsyur di kalangan masyarakat Jawa dan Bali. Jika Yogyakarta punya Nyi Roro Kidul, maka Pulau Asutubun di Maluku Tenggara Barat punya Inkelu. Inkelu sejatinya merupakan sosok perempuan yang jadi penunggu sekaligus pelindung Pulau Asutubun. Keberadaan Inkelu sudah diketahui sejak zaman dahulu. Semasa hidupnya, Inkelu dikenal sebagai perempuan cantik yang memiliki kesaktian dan ilmu tinggi. Saking hebatnya, Inkelu bahkan dikisahkan mampu berjalan di atas air. Tak ada satupun yang mampu mengalahkan kesaktian Inkelu. Banyak orang coba menyerang dan menjatuhkan Inkelu untuk merebut Pulau Asutubun yang jadi kediamannya, namun tak ada yang berhasil. Hingga suatu ketika, semua suku dari berbagai wilayah Tanimbar bersatu untuk melawan Inkelu. Usaha menghimpun kekuatan ini akhirnya berhasil mengalahkannya dan Inkelu pun meninggal. "Dulu kan perang-perang ini antar kampung. Namun satupun tak mempan karena perempuan ini," jelas Royg Batsire Fanumbi, penduduk asli Olilit. "Nah kalau mau bukti, lihat orang-orang yang dibunuhnya itu di belakang situ ada tengkorak semua sudah jadi batu di goa," sambungnya saat itu, Inkelu menjelma jadi penunggu dan pelindung abadi yang menetap di Pulau Asutubun. Pulau Asutubun, Saumlaki Foto Fanny Kusumawardhani/kumparanDitutur Royg, kejadian ini terjadi jauh di masa lampau. "Kita saya ada keturunan beliau. Datuk nenek saya itu," jelas pria berusia 50 tahun ini. Meski melindungi wilayah ini, uniknya, Inkelu bukanlah warga asli Tanimbar. Ia justru berasal dari Madura. Saat memasuki era perang Majapahit, keraton Madura menolak terlibat dan kabur ke Maluku. Inkelu pun menikah dengan warga Olilit dan menyandang marga warga asli Olilit keturunan Fanumbi yang bebas memasuki Pulau Asutubun sesuka hati. Bahkan bisa dikatakan, marga Fanumbi merupakan pemilik Pulau Asutubun. Pulau Asutubun, Saumlaki Foto Fanny Kusumawardhani/kumparanSetiap orang asing yang berkunjung ke Pulau Asutubun harus meminta izin terlebih dahulu kepada Inkelu. Caranya, pendatang tersebut harus mengajak satu orang bermarga Fanumbi untuk meminta izin dan menemani perjalanan ke pulau ini. Karena hal inilah, kumparan mengajak Royg, yang merupakan keturunan langsung Inkelu, untuk menemani kunjungan ini. Di Pulau Asutubun ini sejatinya terdapat sangat banyak pantai cantik yang tersebar di seluruh pelosok. Antara lain Pantai Sambunyi, Pantai Satu, Pantai Dua, Pantai Tiga, dan masih banyak lagi. Pria paruh baya inipun menjelaskan bahwa pantai yang disebutkan di atas memiliki nama asli. "Nama itu disebut-sebut orang saja itu. Ada nama aslinya, Pantai Laranskuail satu, Pantai Laranyatak dua, Pantai Laranmelawasbintabun tiga, lalu Pantai Bointubun Sambunyi," bebernya lengkap."Di sini kalau teriak-teriak sembarang bisa hilang," peringat Royg. "Tidak boleh maki-maki, teriak kasar, juga mesum," kata dia. Royg juga menceritakan beberapa kasus orang hilang yang pernah terjadi di Pulau Asutubun. "Dulu ada orang Buton datang, mengaku-ngaku bisa juga petuhanan dan bicara dengan datuk saya Inkelu itu, tapi ternyata tidak bisa. Dia hilang, polisi sudah cari bagaimanapun tidak ketemu," kisahnya. Pulau Asutubun, Saumlaki Foto Fanny Kusumawardhani/kumparan"Lalu orang sana cari orang pintar di Jawa, yang bisa lihat makhluk halus. Lalu mereka suruh cari orang yang namanya Ubikaman. Almarhum bapak saya, lalu mereka cari datang ke sini, tapi orang bilang sudah meninggal, dan sekarang hanya ada saya," tuturnya. "Lalu saya bilang, kalau saya datang sembahyang dan teriak di Pulau, baru bisa dapat ketemu mereka. Saya bisa buktikan," ujar Royg pelan. Inkelu sendiri bersemayam di salah satu pantai yang ada di Pulau Asutubun, yaitu Sife. Pantai ini memiliki pasir yang berbeda dari tempat lainnya halus bak tepung terigu. Banyak orang mengatakan, bahwa setiap kali mereka datang ke pantai ini, terdengar suara ayam berkokok. Padahal, sama sekali tak ada seekor pun ayam hidup yang berkeliaran di sana. Konon, suara tersebut merupakan ayam milik Inkelu yang telah berubah menjadi batu. "Sife itu artinya ayam. Ayamnya benar jadi batu, kalau pergi bisa lihat di situ," jelas Royg sembari menunjuk ke arah pulau. Cara memanggil atau membujuk Inkelu untuk memulangkan orang yang ditawannya adalah mempersiapkan sederet sesajen khusus. "Saya datang siapkan sopi, sirih, pinang, ada kapur, baru manggil. Ada kain tenun juga," urainya. "Siang boleh, malam boleh, yang penting saya yang panggil," kaya Royg. "Dulu pernah ada orang yang hilang sudah satu bulan, saya panggil, lalu ketemu muncul begitu saja di pantai. Dia tidak bisa ngomong sama sekali bisu karena sudah lama hidup di tempat arwah, lalu saya sembahyang lagi, beri air minum, setelah itu baru mereka bisa ngomong seperti kita kembali," memperoleh kembali kemampuan bicaranya, orang tersebut membeberkan pengelaman mengerikan yang dialaminya selama ditawan Inkelu. Katanya, Pulau Astubun sejatinya merupakan kota yang sangat besar di dunia arwah. Pengibaran Merah Putih di Pulau Asutubun Foto Stephanie Elia/kumparanRoyg, yang bisa dikatakan sebagai juru kunci Pulau Asutubun pun menceritakan pengalamannya saat 'berjumpa' dengan Inkelu. "Pernah saya mancing, daerah ini kan tempat mancing. Saya pernah lihat beliau keluar dari air, pakaiannya kain sampai di dada kemben, dia berdiri di atas air. Cantik," ujar Royg membeberkan pengalamannya. Royg juga memperingatkan orang asing untuk selalu berhati-hati dan menjaga sikap saat mengunjungi Pulau ini. Jika datang seorang diri, Inkelu dikatakan bisa menyamar jadi pasangan atau orang terdekat yang kamu miliki. Lengkap dengan wujud, logat, dan bahasa tubuhnya .Jika sudah begini, kamu akan tertipu dan terjebak mengikuti Inkelu masuk ke dunianya. Jadi, perhatikan sikap saat bertandang ke pulau ini, ya!
Penasaran dengan cerita rakyat dari Maluku? Tak perlu ke mana-mana, kamu bisa menemukannya di sini. Ceritanya juga sarat makna, cocok untuk dijadikan sebagai daerah di Indonesia yang memiliki sejarah maupun mitos tersendiri yang melatarbelakangi terbentuknya lokasi tersebut. Tak terkecuali beberapa lokasi di daerah Maluku. Mitos ini kemudian berkembang dari mulut ke mulut dan akhirnya menjadi cerita rakyat yang banyak dipercaya oleh masyarakat setempat. Cerita tersebut biasanya juga sarat akan pesan moral. Nah, kini saatnya bagi kamu untuk mengetahui cerita rakyat dari Maluku. Kalau penasaran, cari tahu selengkapnya di sini. Buaya umumnya berwarna hitam keabuan. Namun, di Maluku ada legenda atau cerita rakyat tentang buaya yang berwarna tembaga. Kalau penasaran dengan kisahnya, langsung saja baca artikel ...Kalau kamu suka membaca dongeng atau cerita-cerita rakyat Nusantara, sesekali bacalah cerita legenda Batu Badaong yang berasal dari Maluku. Tak hanya memiliki cerita yang seru, legenda ...Dari daerah Maluku, ada banyak sekali kisah yang menarik untuk disimak. Salah satunya adalah legenda Nenek Luhu atau yang juga dikenal sebagai asal mula terjadinya laguna Air Putri di ...Ada cerita haru di balik legenda asal mula terbentuknya Telaga Biru yang terletak di Provinsi Maluku Utara. Kira-kira kisahnya tentang apa, ya? Kalau kamu penasaran, berikut kami sediakan ...Jika selama ini kamu cuma tahu kalau Putri Malu adalah sejenis tanaman, bisa jadi kamu masih kurang wawasan. Yuk, perkaya wawasanmu dengan membaca cerita dongeng tentang Putri Malu yang ...Legenda Asal Mula Telaga Biru di Maluku Ada cerita haru di balik asal mula terbentuknya Telaga Biru di Maluku. Cerita ini juga memiliki pesan moral yang bisa dijadikan pelajaran. Kalau kamu penasaran seperti apa kisahnya, simak baik-baik di artikel ini. Menariknya, cerita ini juga terbilang cukup romantis meskipun berakhir tragis. Baca selengkapnya Legenda Asal Mula Telaga Biru Beserta Ulasannya, Bikin Terharu dan Sarat Makna Cerita Legenda Batu Badaong Pada jaman dahulu, hiduplah seorang keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan 2 anak yang sangat manja. Suatu ketika, sang ayah yang bertindak sebagai pencari nafkah hilang ditelan ombak. Otomatis, kesejahteraan keluarga menjadi terganggu. Sang ibu harus bekerja keras menggantikan sang ayah, tapi anak-anaknya tetap tak mau bekerja. Semakin lama, tingkah laku kedua anak tersebut semakin menjadi-jadi. Mereka malah tak segan untuk menyakiti ibunya bila tak memenuhi keinginan mereka. Akhirnya, ibu mereka berdoa sesuatu. Mungkin kamu berpikir ini kutukan, tapi bukan, ini adalah sebuah permintaan. Kira-kira, apa permintaan sang ibu? Baca selengkapnya Cerita Rakyat dari Maluku, Legenda Batu Badaong Beserta Ulasan Lengkapnya EditorElsa DewintaElsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar.
23/11/2021Ada sebuah desa bernama Adodo berada di Pulau Fordata, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Alkisah, di desa Adodo itu hiduplah sebuah keluarga bangsawan dari marga Werluka. Suami istri itu memiliki seorang anak laki-laki bernama Tameru dan seorang anak perempuan bernama Inkelu. Sesuai adat istiadat di desa Adodo, seorang anak perempuan bangsawan tidak boleh keluar rumah sampai ia berusia dewasa. Inkelu pun demikian. Menurut cerita, Inkelu adalah gadis yang sangat cantik. Meskipun begitu, belum ada warga desa yang pernah melihat wajahnya. Suatu hari, ketika Inkelu menginjak usia lima belas tahun, ia mengajukan permohonan kepada ayahnya. "Ayah, aku ingin sekali pergi ke pantai. Bukankan aku sudah cukup dewasa untuk dapat keluar rumah?" bujuk Inkelu. "Apa yang kau katakan? Usiamu baru lima belas tahun. Kau belum cukup dewasa untuk keluar rumah! Nanti saja ketika usiamu tujuh belas tahun," sanggah si ibu. "Tapi, aku pikir Inkelu sudah dapat menjaga dirinya sendiri," kata ayahnya. "Tapi, ingatlah Inkelu, kau tidak boleh keluar rumah sendirian. Kau harus pergi ditemani para pelayan," pesan si ayah. "Baiklah, aku akan menjaga diri dan membawa para pelayan untuk menemaniku pergi ke pantai," ucap Inkelu bahagia. Sebelum pergi, Inkelu berpesan kepada ketujuh pelayannya untuk tidak lupa membawa bekal dan bakul-bakul kosong. Bakul itu akan ia gunakan untuk wadah kerang-kerang ataupun kepiting yang akan ditangkapnya di laut. Tidak berapa lama, pergilah Inkelu bersama tujuh pelayannya ke pantai sambil membawa bakul-bakul kosong. Ia sangat bahagia bisa keluar rumah. Wajahnya berseri-seri. Inkelu berlarian menangkap kerang-kerang dan kepiting. Para pelayan pun tampak bahagia menemani Inkelu. Tidak terasa, beberapa bakul sudah terisi penuh dengan kepiting dan kerang. "Aku pikir kerang-kerang dan kepiting di sini sudah habis. Sebaiknya kita mencari tempat lain. Pergilah kalian ke timur. Aku akan pergi ke barat mencari kerang," ucap Inkelu kepada para pelayannya. "Tapi, Tuan Putri tidak boleh pergi sendirian. Biarlah salah satu dari kami menemani Tuan Putri," ucap salah seorang pelayan. "Sudahlah. Aku sudah dewasa untuk bisa menjaga diri sendiri. Kalian tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku. Kalian bersenang-senanglah. Nanti, setelah sore, kita berkumpul lagi di sini," perintah Inkelu. "Tapi, Tuan Putri...," sahut pelayan lainnya. "Tidak ada tapi-tapi. Sudahlah, aku ingin sendirian. Kita akan berkumpul kembali di sini," potong Inkelu. Meskipun para pelayan itu tidak ingin meninggalkan tuannya, mereka tidak dapat membantah keinginan Inkelu. Akhirnya, mereka melakukan perintah Inkelu dengan membiarkan Inkelu bermain sendirian di barat, sedangkan mereka pergi ke timur. Inkelu sangat senang bisa menikmati keindahan pantai sendirian tanpa ditemani para pelayan. Tanpa terasa, ia telah terpisah jauh dengan para pelayannya. Inkelu kemudian mencari-cari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sebuah batu besar datar yang letaknya agak ke tengah laut. Ia pun pergi ke batu itu dan beristirahat di atasnya. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian berlari dan membungkuk mencari kerang serta kepiting. Inkelu berbaring di atas batu besar yang hangat terkena pancaran sinar matahari. Entah dari mana, tiba-tiba saja di hadapannya sudah ada seorang pemuda yang sangat tampan. Selain ayah dan kakak lelakinya, ia tidak pernah bertemu dengan laki-laki manapun. Inkelu sangat bahagia bercakap-cakap dengan lelaki asing itu. Walaupun baru kenal saat itu, mereka sudah terlihat sangat akrab. Inkelu terkejut lagi ketika pemuda tampan yang baru ditemuinya itu tiba-tiba menghilang. Karena sudah seharian bermain di pantai, perutnya mulai terasa lapar. Ia pun pergi ke tempat ia berjanji bertemu dengan para pelayannya. Ternyata, di sana para pelayannya sudah menunggu dengan hati cemas. "Apa kalian tidak lapar?" tanya Inkelu. "Kami memang lapar. Tapi kami tidak berani untuk makan lebih dulu sedangkan Tuan Putri belum tiba," sahut pelayannya. "Kalau kalian lapar, sebaiknya kalian makan lebih dulu. Ya sudah, ayo kita makan bersama!" ucap Inkelu. Inkelu dan para pelayannya kemudian saling bertukar cerita tentang apa yang mereka alami selama bermain di pantai. Namun, Inkelu tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang pertemuannya dengan pemuda tampan di pantai. Semenjak pertemuannya dengan pemuda asing di pantai, Inkelu merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya. Meskipun demikian, ia tidak menceritakan kejadian yang dialaminya bersama pemuda itu kepada siapa pun. Namun, sepulang dari pantai, ia tampak murung dan lebih pendiam. Orangtuanya tidak mengetahui apa yang sebenarnya menimpa buah hati mereka. Setiap pertanyaan yang dilontarkan kedua orangtuanya, Inkelu lebih senang untuk bungkam. Karena merasa heran dengan tingkah laku anaknya, bangsawan itu menanyakan kepada pelayan Inkelu apa sebenarnya yang terjadi di pantai. Tapi, tidak seorang pun dari mereka yang tahu penyebab perubahan sikap Inkelu. Tiga bulan telah berlalu. Betapa terkejutnya orangtua Inkelu ketika mengetahui putri tercintanya telah hamil. Kedua orangtua itu sangat bingung, bagaimana mungkin putrinya yang belum menikah dan selalu berada dalam pengawasan mereka tiba-tiba hamil. Mereka ingat, satu-satunya waktu di luar pengawasan mereka adalah ketika Inkelu pergi ke pantai. Tapi, berkali-kali ditanya siapa lelaki yang telah kurang ajar kepada Inkelu, berkali-kali pula Inkelu hanya diam tidak menjawab sepatah kata pun. "Kurang ajar. Siapa laki-laki kurang ajar yang berani menghamili putriku?" tanya ayah Inkelu. Berita kehamilan Inkelu telah menyebar dengan cepat. Entah siapa yang membongkar aib itu, tetapi seluruh penduduk desa telah mengetahui bahwa Inkelu telah hamil. Betapa malunya keluarga bangsawan itu. Akhirnya, untuk menebus rasa malu, Inkelu dihukum tidak boleh tidur di kamar. Hal ini dilakukan untuk mendesak agar Inkelu mau berterus terang siapa pemuda yang telah menghamilinya. Tapi, rencana itu ternyata tidak berhasil juga. Bulan berganti bulan. Inkelu pun melahirkan anaknya. Namun, betapa terkejutnya ketika bayi yang lahir dari Inkelu bukanlah anak manusia, melainkan seekor anak hiu berwarna putih. Berita itu kemudian menyebar ke seluruh desa. Namun, ada hal yang aneh pada bayi hiu itu ketika diletakkan di dalam air, ia tidak mau tengkurap seperti layaknya ikan. Bayi hiu itu tetap pada posisinya yang terbaring dengan perut menghadap ke atas. Kemudian, ayah Inkelu bermusyawarah dengan para tetua desa. Akhirnya, disepakatilah untuk mengumpulkan semua pria di daerah itu dan menyelidiki siapa ayah dari bayi hiu itu. Namun, usahanya sia-sia saja. Jejak pemuda itu tidak ditemukan. Lalu, ayah Inkelu memanggil seorang dukun untuk menyelidikinya. Setelah sekian lama didesak, akhirnya Inkelu terpaksa membuka mulutnya. Ia menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang pemuda di pantai setahun yang lalu. "Hmm...kalau begitu berarti pemuda itu adalah makhluk halus. Kau pasti sudah menghirup napasnya. Inilah yang menyebabkan kau hamil," ucap sang dukun. Atas petunjuk Inkelu, pergilah para penduduk desa ke batu datar tempatnya beristirahat setahun yang lalu. Benar saja, ketika bayi hiu itu diletakkan ke dalam air dekat batu datar, hiu kecil itu dapat membalikkan badannya dan dapat berenang dengan normal seperti ikan pada umumnya. "Berarti benar, ayah bayi hiu ini berada di tempat ini," ucap sang dukun. Semua penduduk mengangguk-angguk. Tidak ada lagi dari mereka yang mencemooh Inkelu. Para penduduk desa justru merasa kasihan kepada Inkelu karena kemalangannya itu. Malam harinya, Tameru, kakak kandung Inkelu bermimpi bertemu dengan ikan hiu kecil kemenakannya. "Paman Tameru, tahun depan aku akan berumur satu tahun. Pada hari itu, aku harap paman datang ke dekat batu datar di pantai karena di situlah rumahku. Tapi, jangan lupa paman harus membawa sepiring nasi putih dan kuning telur rebus sebutir. Setelah itu, taburkanlah di sana sambil memanggilku. Ingatlah, yang memasak nasi itu harus Ni Lohat Ra adik perempuan nenek tidak boleh digantikan oleh siapapun. Paman harus datang sendiri atau boleh ditemani seorang saudara laki-laki yang masih ada hubungan kekerabatan. Tidak boleh ada wanita yang datang apalagi wanita hamil," pesan hiu kecil itu dalam mimpi. Setahun kemudian, Tameru memenuhi pesan hiu kecil kemenakannya. Ia melaksanakan semua pesan yang ada dalam mimpinya dengan baik hingga tidak satu pun yang terlewatkan. Dengan ditemani saudara laki-laki, Tameru pun pergi ke pantai dekat batu datar. Malam harinya, Tameru kembali bertemu dengan ikan hiu itu. Kini usianya telah satu tahun. Tubuhnya tidak lagi kecil seperti dulu. Tubuhnya sudah sebesar perahu. Ia berterima kasih karena Tameru telah melaksanakan permintaannya dengan baik. Sejak saat itu wanita hamil pantang mengunjungi pantai sebelah barat. Dan pada bulan Juni, di dekat alur laut yang di sebut Nam Dabdubal, banyak sekali ikan hiu yang berkumpul di tempat itu. Saat ini, di desa Adodo masih terdapat orang yang sudah botak sejak lahir dan bergigi halus dan tajam seperti hiu. Konon, itu adalah akibat dari ibu mereka yang melanggar pantangan untuk tidak pergi ke pantai sewaktu hamil. Pesan Moral Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu patuh akan nasihat orangtua. Jangan mencoba untuk melanggar semua petuah yang diberikan oleh orangtua. Sebab, ada hal yang baik di balik semua petuah ataupun larangannya.
cerita rakyat dari maluku tenggara